Latest News

Thursday, April 26, 2018

Pengertian Istilah Denominasi


Untuk memahami liturgi dan musik yang dipakai dalam suatu ibadah kristiani, maka pertama-tama harus tahu apa arti DENOMINASI. Karena model ibadah gereja ada banyak sekali, tergantung denominasinya. Nah, sebelum menelusuri berbagai liturgi gereja mari simak makna DENOMIASI dulu.  
            Kata Denominasi berasal dari kata latin `denominare`to give a specific name "memberi nama". Definisi Denominasi dapat dilihat dalam dua pengertian yakni dalam pengertian Kristen secara umum sebagai suatu kelompok (gereja) dalam kekristenan yang diidentifikasikan di bawah satu nama, struktur dan ajaran atau doktrin. Sedang dalam pengertian secara khusus sebagai hasil dari kejatuhan iman, yang ditilik dari sudut pandang Alkitab sebagai suatu perpecahan. Sebenarnya kalau dianggap sebagai ‘kekayaan’ corak juga bisa, karena Gereja juga diibaratkan seperti Tubuh yang memiliki banyak anggota yang punya fungsi berbeda.
            Alkitab sendiri mencatat ada penggolongan-penggolongan, paling tidak dalam 1 Korintus 1:12 kita temui ada 3 golongan. Dari sini saja kita sudah mengenal adanya denominasi. Adanya pengelompokkan ini telah menimbulkan masalah di dalam Jemaat Kristus sejak abad pertama. Paham denominasi telah ada di antara murid-murid Yesus: “Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan PaulusAtau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan KefasAtau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?” (1 Kor 1:12-13).
            Ayat di atas dapat diartikan bahwa "golongan `Kefas` lah yang paling benar?"; atau "golongan `Paulus` lah yang paling benar?" atau juga "golongan `Apolos` lah yang paling benar?". Toh semuanya dibaptis dalam nama yang sesuai dengan rumusan baptisan yang ditetapkan oleh Yesus Kristus dalam Matius 28:19.
            Paulus membahas suatu pertikaian dalam Jemaat di Korintus. Dan Paulus memaksudkan bahwa individualisme berkembang luas ketika masing-masing anggota mengikat dirinya pada orang tertentu (dalam hal ini adalah Paulus; Kefas; dan Apolos). Gejala yang berkembang pada masa lalu ini, juga kita jumpai sampai dengan masa kini, bukan?
            Adanya pemisahan menjadi golongan-golongan yang berbeda adalah hal yang manusiawi. Tidaklah terlalu sulit merekonstruksikan ketiga "kelompok (denominasi)"; Mereka yang mengatakan "Aku dari golongan Paulus"barangkali adalah jemaat yang tetap setia kepada Paulus, dan yang barangkali melihat bahwa kewibawaannya dipertanyakan oleh mereka yang mengklaim golongan Apolos ataupun Kefas sebagai tokoh pemimpin mereka. Mereka yang mengatakan "Aku dari golongan Apolos" mengakui memiliki kesetiaan khusus pada Apolos yang juga pernah menjadi pengkabar Injil di Korintus. Ada pula yang mengatakan "Aku dari golongan Kefas" adalah kelompok pengikut Petrus, yang memberi gambaran bahwa mungkin sekali Petrus juga pernah datang ke Korintus sehingga mereka mengenal Petrus dengan nama Aramaicnya yaitu "Kefas". Kemungkinan sebagian orang memandangnya adalah `rasul utama` dengan merujuk Matius 16:13-19 sebagaimana saudara-saudara kita dari kalangan Katolik. Namun apakah golongan Kefas ini adalah yang paling unggul?
            Perpecahan terjadi karena para pemimpin dalam jemaat mulai berkembang; beberapa anggota gereja mulai lebih lekat kepada para-pelayan Injil tertentu daripada dengan Injil-nya sendiri. Paulus menyalahkan sikap ini, sambil mengingatkan mereka bahwa baik dia maupun orang lain tidak disalibkan demi mereka. Kesalahan yang sama terdapat dalam gereja masa kini.
Beberapa orang percaya menjadi lebih lekat dengan seorang gembala atau penginjil daripada dengan Kristus dan firman-Nya sendiri. Hal inilah yang dapat menyebabkan mereka mengkhianati prinsip Kristen, bahkan dapat memecah-belah jemaat. Kita harus selalu berhati-hati untuk memusatkan kasih dan kesetiaan kita kepada Allah dan firman-Nya, bukan pada pelayan Injil atau siapapun juga.
            Pengajaran sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh Paulus adalah makna dari frasa terakhir yaitu "Aku dari golongan Kristus". Bagaimana kita menjelaskan kelompok Kristus ini? Penggolongan memang telah terjadi, namun kesemuanya adalah murid Kristus, mereka semuanya mengklaim memiliki komunikasi langsung dengan Kristus dan menjadi milik Kristus; maka, apa yang harus dipermasalahkan?
            Dalam 1 Korintus 3:23 kembali Paulus menegaskan “Engkau adalah milik Kristus” ini bukan sekedar slogan melainkan kebenaran, dan ini sekaligus memberikan penekanan bahwa pengakuan manusia, rasa loyalitas terhadap seorang Rasul, yang menjadikan mereka menjadi kelompok-kelompok tertentu yang berbeda dengan lainnya, bukanlah hal yang penting dalam Jemaat Kristus.
            Para rasul itu hanyalah hamba-hamba Tuhan yang memberikan pertumbuhan :
Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani? Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah (1 Korintus 3:4-9)
            Sekarang kita kembali ke 1 Korintus 1:13, suatu pertanyaan retorik “Adakah Kristus dibagi-bagi?” . (bandingkan dengan 1 Korintus 12:12-27). Hanya pribadi Kristus-lah yang disalibkan, dan umat Kristus tidak dibaptis dalam nama seorang rasul. Umat percaya bukanlah milik manusia, ataupun milik lembaga ciptaan manusia, melainkan milik Kristus yang denganNya dipersatukan didalam baptisan, karena baptisan berarti ikut serta dalam kematian dan kebangkitanNya (Roma 6:1-4).
            Semoga kisah jemaat Korintus ini bisa dijadikan perenungan. Sama juga halnya perdebatan di beberapa forum diskusi, satu aliran merasa alirannya yang paling benar, satu aliran merasa paling injili dari yang lain, satu aliran merasa yang paling hebat dan seterusnya.
            Adanya pengelompokan-pengelompokan adalah sesuatu yang manusiawi (1 Korintus 3:4). Manusia merasa nyaman berkumpul dengan orang-orang yang homogen dengan dirinya atau yang mungkin `sepaham` , `sewarna` dan sebagainya.
            Tetapi kalau merasa dirinya atau kelompoknya adalah yang paling benar, maka sekaligus pada saat yang bersamaan menunjuk orang atau kelompok lain adalah tidak benar. Hal ini tentu harus bisa menjawab “Apa legitimasinya kalau menganggap golongannya adalah yang paling benar ?”
            Sehingga selain mempunyai mandat ‘keluar’ memberitakan Injil, gereja sebenarnya mempunyai tugas dan PR besar yang bisa menjawab Doa Tuhan Yesus “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka (Yohanes 17:20-23). (PRAISE # 16/Pis).







Sumber : www.majalahpraise.com

No comments:

Post a Comment

Tags